Monday, December 15, 2008

editorbuku.wordpress.com

Karena termakan provokasi orang lain :-) saya memutuskan untuk memindahkan blog ini ke http://editorbuku.wordpress.com.

Wednesday, May 16, 2007

Parodi Judul-Judul Buku

Parodi Judul Buku
(Talk Show)

Suatu ketika saya diminta merancang acara untuk dipertunjukkan oleh rekan-rekan editor pada perayaan ulang tahun perusahaan. Saya hanya punya waktu satu malam. Sore itu, ketika teman-teman lain termenung dan tertawa-tawa dalam acara tirakatan, saya membolak-balik katalog buku Kanisius. Tiba-tiba saja judul-judul buku itu berkelindan sendiri dan menjadi sebuah cerita. Aha! Saya dapat ide. Malam itu saya tidak tidur. Paginya, jadilah teks di bawah ini. Semua teks yang ditebalkan adalah judul buku yang diterbitkan oleh Kanisius.

A.

Selamat siang para pemirsa yang berbahagia. Salam sejahtera dan salam perbukuan untuk Anda semua. Pada kesempatan ini saya, Penyiar Radio Profesional, mengajak Anda untuk berkenalan lebih jauh dengan seorang pengusaha sukses di bidang penerbitan dan percetakan.

Para pemirsa, inilah Bapak Lawing!

B.

Thank You-Terima Kasih! Hello-Halo para pemirsa tercinta!

B.

Mbak Penyiar Radio Profesional, saya senang mendengar Kalau Perempuan Angkat Bicara. Merdunya seperti Nusantara Bernyanyi.

A.

Pak Lawing, suara saya biasa-biasa saja kok.

B.

Ah, Mbak Penyiar, Mengapa Rendah Diri? Rasa Malu Sebagai Hambatan Kemajuan, lho. Ayo, Mbak, Tampilkan Jati Dirimu! Mungkin baik bila Anda mulai Belajar Menyanyi dengan Not Balok. Atau sesekali bermain Suling Bambu?

B.

I'm Sorry-Maaf, Mbak Penyiar. Wajah Anda cantik. Saya perhatikan Anda. Sejuk. Seperti Romo Mangun di Mata Para Sahabat. Apalagi dengan Puspa Ragam Busana yang Anda kenakan sekarang, dari Aneka Krah, Aneka Blus, Aneka Gaun, Aneka Rok Bawah, dan Model dan Pola Pakaian Santai … Anda bagaikan Aneka Makanan Ringan dan Manisan Buah-buahan. Perempuan dan Politik Tubuh Fantastis! Your Face sungguh-sungguh Your Destiny, lho, Mbak.

A.

Ah, Pak Lawing ini seperti Dak Dut yang Nakal. Saya ikut dalam Gerakan Anti Kekerasan terhadap Perempuan, lho Pak Lawing.

B.

Oh, I'm Sorry-Maaf. Wah, Mengapa Saya Merasa Tidak Enak? Sekali lagi I'm Sorry-Maaf, ya Mbak Penyiar Radio Profesional. Memaafkan itu Kekuatan yang Membebaskan, lho. Dan Please-Tolong anggaplah omongan saya hanya sebagai Fakta Jenaka untuk Anak-Anak.

A.

Pak Lawing, sudah berapa lama Anda terjun ke dalam usaha penerbitan dan percetakan?

B.

81 tahun.

A.

Wah, sudah tua sekali Anda, ya?

B.

Tua-tua keladi. Makin tua makin menjadi. J

A.

Apa yang Anda lakukan sebelum ini?

B.

Saya dulu petani yang sukses. Saya pernah Bertanam Salak, Bertanam Cabai, Budi Daya Bekicot. Saya bahkan Membuat Gerabah dan Membuat Bak Bambu Semen sendiri. Semuanya sukses, dan itu karena saya membaca buku terbitan Kanisius. Usaha saya yang paling berhasil adalah waktu saya Usaha Ikan di Lahan Pekarangan. Saya sangat berterima kasih kepada pengarang buku itu. Mudah-mudahan beliau saat ini juga sedang mendengarkan acara kita ini.

A.

Lho? Pekarangan?

B.

Ya. Pekarangan. Saya Membangun dan Menghuni Rumah di Lerengan. Kebetulan di belakang Rumah Sederhana saya, masih tersisa pekarangan seluas kira-kira 20 hektar. Satu-satunya usaha yang gagal adalah waktu saya mencoba usaha Temulawak. Mengherankan. Katanya Temulawak, tapi kok saya tidak bertemu dengan satu pelawak pun! Saya hentikan saja usaha itu. Belakangan ini saya mencoba Memelihara Ayam Kampung. Sekarang sedang sibuk membuat kandangnya, membelah bambu, dan mencari Kolom Beton Bertulang bekas bongkaran bangunan kantor.

A.

Lalu, apa yang terjadi sehingga Anda banting setir berganti usaha?

B.

Ini sebuah cobaan dalam Meniti Roda Kehidupan yang membuat saya terpaksa Beriman dalam Himpitan Zaman. Kalau ingat peristiwa itu, saya suka meneteskan Mata Air Bulan.

Begini, Mbak. Hidup saya saat itu sebetulnya Berlimpah Namun Gersang. Saya jadi sering berPerilaku Abnormal. Sampai suatu ketika saya kebablasen Mengkritisi Polisi. Kontan, saya diseret ke Pangadilane Ratu. Saya mencoba membela diri dengan berkata, Biarkan Kami Bicara! Tapi akhirnya saya harus menerima keputusan Hakim yang Bijaksana. Itulah saat saya mengalami Kekalahan Manusia Petani. Saya bangkrut total dan terpaksa mencari makan dengan menarik Cikar Bobrok.

A.

Kisah yang mengharukan. Lalu?

B.

Saya tidak habis pikir. Setiap detik saya mengalami Pergulatan Intelektual dalam Era Kegelisahan. Sampai-sampai saya menderita Insomnia, Gangguan Sulit Tidur. Saya merasa Hurt-Sakit Hati, Lonely-Rasa Sepi, Sad-Sedih, sekaligus juga Angry-Marah, dan Afraid-Takut. Akibatnya, saya mudah merasa Jealous-Iri Hati. Pokoknya, ada 7 Dosa Pokok. Saya bertanya-tanya dalam hati, "Derita: Kutuk atau Rahmat?" Saya mulai ragu pada Tuhan. Itulah Saat Tuhan Tiada. Setiap kali berdoa, saya berkata, "Tuhan, I Love You I Hate You." Ya, saya Menggugat Tuhan.

A.

Anda berjuang sendiri dalam pergulatan itu?

B.

Tidak. Berkat Resep saka Si Gundhul, saya mulai Berfilsafat, Sebuah Langkah Awal, terus berpikir tentang apa yang ada Di Balik Kemiskinan dan Kemakmuran. Saya mulai jarang makan, paling sesekali mengunyah nasi dan Sayur Lodeh Kehidupan. Kedua kaki saya mengambil Langkah-Langkah Peradaban yang kemudian membuat saya kerap melakukan Ziarah Peradaban ke makam-makam keramat. Berkat Resep saka Si Gundhul jugalah saya mulai belajar Teologi Mistik. Akhirnya setelah mendalami 18 Sikap Doa dan 22 Metode Renungan, saya berhasil mempelajari ilmu kanuragan Semar Mencari Raga yang membuat saya bisa memahami Doa Binatang.

A.

Ck ck ck. Luar biasa!

B.

Sayangnya, ada efek sampingya. Saya mulai sering Merenung Sambil Tersenyum, Tersenyum Sambil Merenung.

A.

I'm Sorry-Maaf, dengan kata lain, Anda pernah kenthir, ya Pak Lawing?

B.

Yah, itulah Pernik-Pernik Kehidupan. Syukurlah, dengan pertolongan Saudari Bumi Saudara Manusia, tak lama kemudian saya dibawa pada Awal Persahabatan dengan Kitab Suci dan segera memperoleh Pijar Peradaban Manusia. Saya mengerti Paham Allah. Saya berhasil Menemukan Tuhan dalam Segala Sesuatu. Mulailah saya memahami tentang Penghayatan Agama yang Otentik dan tidak Otentik. Agama saya pun Agama yang Berpijak dan Berpihak. Saya memperoleh Penyembuhan Luka-Luka Batin. Dan tiba-tiba saja dalam diri saya tumbuh semangat kuat. Saya Ingin Membayar Hutang kepada Rakyat. Saya mendambakan suatu Kegembiraan yang Tak Dapat Dirampas Orang, sehingga saya tidak perlu lagi menderita Stres Tanpa Distres. Saya inginkan Bunga-Bunga Kebahagiaan.

A.

Tapi, mengapa Anda memilih bisnis di bidang penerbitan dan percetakan?

B.

Nah, yang ini memang tidak mudah, butuh Iman dan Perasaan, dan juga Art of Choosing, Seni Memilih antara Roh Baik dan Roh Jahat. Tapi, pada prinsipnya, saya yakin bahwa Buku Membangun Kualitas Bangsa. Saya mau jadi penerbit. Memang ada risikonya. Kalau dulu sebagai petani saya hidup Berlimpah Namun Gersang, maka kini sebagai orang penerbitan saya sering was-was Bila Sumber Mengering, terutama sumber mata pencaharian.

A.

Pak Lawing, menurut Anda, apa kiranya kiat-kiat keberhasilan Anda?

B

Hmm, sebetulnya ini Secrets of Life. Tapi, baiklah, saya dapat memberikan beberapa Rahasia Kecil Kehidupan. Pertama-tama adalah menguasai Teknik Mengarang. Kedua, Anda haruslah seorang seniman, yang terampil dalam Seni Menuangkan Gagasan, Seni Menggayakan Kalimat, dan Seni Menerjemahkan.

Kemudian, Rahasia Kecil Keberhasilan adalah Gagasan yang Menjadi Peristiwa.

Segala cita-cita dan gagasan baik tidak akan berarti kalau tidak diwujudkan. Yang juga penting adalah Berguru Pengalaman Bertemu Kesuksesan. Perlu dilakukan Training SDM yang Efektif, Komunikasi Antar Pribadi, dan kesempatan yang diberikan untuk Berbasa-basi Sejenak antara atasan dan bawahan dan antarpekerja sendiri. Tapi, awas, jangan mudah tergoda untuk menjadi Sejenak Bijak. Lha, bijak kok cuma sejenak? Yang lama, dong.

A.

Pak Lawing, berdasarkan pengalaman Bapak sendiri, apa saja persoalan terbesar yang dihadapi dalam usaha penerbitan dan percetakan?

B.

Persoalan terbesar? Yang pasti jadi masalah adalah Interpersonal Conflicts at Work-Konflik Interpersonal di Tempat Kerja. Nyaris kapan saja dan di mana saja terjadi konflik. Terutama tantangan untuk pemimpin perusahaan adalah bagaimana caranya Coping with Aggressive Behaviour: Mengatasi Perilaku Agresif, di samping tindakan preventif untuk Mencegah Kecelakaan Pekerja dalam Pembangunan. Hmm … tapi persoalan terbesar ya tentang Bagaimana Menghadapi Orang Sulit. Persoalan yang satu ini bisa membuat kambuh Penyakit Maag dan Gangguan Pencernakan, yang kadang sakitnya melebihi Sakitnya Melahirkan Demokrasi. Tok tok tok. Kiko Perlu Bantuan, Pak. Tok tok tok. Nil Nil Sakit Gigi, Pak. Tok tok tok. Kera yang Sok Pandai … Nah, ini dia. Yang macam terakhir inilah yang sering bikin tidur saya tidak nyenyak. Syukurlah masih ada karyawan yang seperti Polo Si Sopan atau Lolo yang Baik Hati. Perasaan hati pun jadi ringan ketika menyaksikan Keluarga Pipit yang Bahagia. O, ya. Entah yang bikin pusing, entah yang bikin sejuk, semua itu penting agar saya bisa tetap Bercermin di Kalbu Rakyat. Tanpa itu, mustahil rasanya saya dan perusahaan saya Hidup Sukses dan Bahagia.

A.

Baiklah. Saya setuju dengan Pak Lawing. Omong-omong, upaya apakah yang sedang Pak Lawing lakukan sekarang ini di perusahaan?

B.

Saya sedang melakukan Reformasi dan Transformasi ruangan kerja. Tembok-tembok di antara kamar-kamar dibobol sehingga terbentuk Lubang Hitam Kebudayaan dan suasana kerja para karyawan lebih terbuka.

A.

Tujuannya?

B.

Effective Teamwork dan Empowering People, dong. Sekarang Dari Inem Pelayan Sakti sampai Manajer Profesional semua ada di satu ruangan. Semuanya terbuka. Tidak ada lagi yang bisa melakukan Bisikan Cinta Tersembunyi. Suasana baru ini, saya yakin, dapat memberikan Pandangan Baru Internal Audit dan Mengembangkan Kreativitas dalam Organisasi.

Tata Usaha dan Kearsipan, Surat-menyurat dalam Perkantoran, dan Administrasi Kepegawaian menjadi lebih praktis. Yang mangkir atau datang telat bisa langsung ketahuan. Dan semua kamar kini dilengkapi AC. Sst, jangan bilang-bilang ya, di samping supaya udara kerja lebih nyaman, sebetulnya ini juga untuk memulihkan wibawa papan yang bertulisan "Dilarang Merokok di Tempat Kerja (Pimpinan)". Sekian tahun dipasang, sekian tahun pula dicuekin. Saya sudah melihat beberapa perokok kelas berat bolak-balik hilir mudik keluar masuk ruangan kerja. Kasihan sebetulnya, tapi tidak ada cara lain agar mereka mengurangi Polusi Air dan Udara dan tergerak untuk memper­hatikan Kesehatan Keluarga dan Lingkungan serta Merawat dan Berbagi Kehidupan. Sebagai pelengkap kenyamanan, saya pun sudah menempatkan Enam Tempayan Air untuk minum karyawan.

A.

Apakah pembobolan itu tidak membahayakan struktur gedung?

B.

O, tidak, karena itu dikerjakan dengan memperhatikan Pola Struktural dan Teknik Bangunan di Indonesia, Tata Ruang, Ilmu Bahan Bangunan, dan dihitung dengan Tabel Profil Konstruksi Baja. Bahkan secara keseluruhan proyek ini sudah selaras dengan Perancangan Kota secara Terpadu dan Dasar-Dasar Eko-Arsitektur. Hanya saja ada sedikit masalah tentang Konstruksi Perabot Kayu yang kurang sesuai. Lain waktu, saya akan menugaskan orang untuk mempelajari Teknik Mendesain Perabot yang Benar.

A.

Pak Lawing, untuk masa depan bisnis penerbitan, Anda punya visi apa?

B.

Pertanyaan yang baik, Mbak Penyiar Radio Profesional.

Milenium Ketiga: Bencana atau Harapan? Itu persoalan­nya. Kita harus sadar negeri kita belum lepas dari Jejak-Jejak Krisis di Asia. Kita harus waspada terhadap Politik Bisnis Internasional. Meskipun kita punya Visi dan Agenda Reformasi, toh Indikator Ekonomi—baik Ekonomi Makro maupun Ekonomi Mikro—mengisyaratkan agar kita mencermati Politik Penguasa dan Siasat Pemoeda, terutama Penguasa Ekonomi dan Siasat Penguasa Tionghoa. Kita harus Cerdik Seperti Ular, dan tidak berhenti berjuang Menuju Masyarakat Komunikatif dan Menuju Masyarakat Partisipatif, apalagi negeri kita masih dikuasai oleh Birokrasi nan Pongah.

A.

Bagaimana pengaruh demokratisasi terhadap usaha Anda?

B.

Demokrasi, Semudah Ucapankah?

A.

Hehehe …

B.

Mbak Menertawakan Romo Koko?

A.

Terakhir, Pak Lawing. Suatu saat estafet akan Anda teruskan kepada orang-orang muda yang kini di bawah pimpinan Anda. Adakah amanat yang akan Anda sampaikan kepada mereka?

B.

Amanat? Untuk orang-orang muda? Hmm … sebetulnya mereka lebih butuh nasihat. Tapi, ya, saya punya sedikit Inspirasi Kerja bagi Para Eksekutif Muda. Yang pertama adalah Berpikir dan Bertindak Positif. Optimalkanlah Fungsi Rasio dan Fungsi Kritik. Salah satu Kiat Hidup Sukses adalah sedapat mungkin Mengubah Tanpa Kekerasan. Waspada Sebelum Celaka. Ingatlah akibatnya Bila Malas Belajar. Jadilah orang yang berani, Bukan Pengecut. Jangan sampai Celaka Karena Lalai. Pertimbangkan baik-baik Ruginya Berbohong, terutama Karena Ingkar Janji. Dalam setiap kesempatan, berusahalah mengembangkan Sopan Santun dalam Pergaulan dengan memperhatikan Etika Komunikasi Kantor, Etiket dan Pergaulan, Etika Dasar, Etika Bisnis, Etika Sosial, dan Etika Bisnis Konstruksi. Jangan hanyut dalam Spiritualitas Kaum Muda zaman sekarang yang inginnya Kecil Bahagia, Muda Foya-Foya, Tua Kaya Raya, Mati Maunya Masuk Surga.

Khususnya bagi Anda yang masih lajang, peganglah Moralitas Kaum Muda menurut Panduan Hidup dan Cinta Muda-Mudi Katolik. Anda Dilahirkan untuk Mencinta, tapi berhati-hatilah terhadap Cinta Selayang Pandang. Jangan baru sekali pandang sudah langsung melayangkan surat cinta. Dan camkanlah baik-baik bahwa Expansive Marriage bukan berarti kawin dengan cara ekspansi ke istri dan suami orang lain meskipun istri dan suami orang lain mungkin tampak sebagai Jemaat Vital dan Menarik. Dan sebaiknya menahan diri untuk tidak mulai Mengajar Metode Ovulasi Billings kepada teman atau pacar sebelum Anda menikahinya. Akhirnya, dengan semangat Cinta Tak Bersyarat dan Cinta yang Total, mari kita tingkatkan Kiat Sukses Bergaul dan Kiat Berpacaran dalam menyongsong Pembangunan Jangka Panjang Tahap Ketiga.

A.

Terima kasih, Pak Lawing.

B.

Eh … satu lagi. Courage to Change. Anda harus berani berubah dan mengubah. Dan satu lagi … Bersiaplah Sewaktu-waktu Engkau Dibutuhkan. Dan masih satu lagi … Berhati-hatilah Sewaktu-waktu Engkau Dipecat. Dan …

A.

I'm Sorry-Maaf, Pak Lawing, tapi waktu kita sudah habis.

Para pemirsa yang budiman, sekian acara bincang-bincang kali ini. Terima kasih buat Mas Agung, Santyo, Petrus, Kristianto, Windu, dan rekan-rekan Pemasaran yang supercerewet sekaligus supercerdas, yang menjadi sumber inspirasi acara ini. Untung Hidup Itu Lucu dan Indah. Dan Victi. Dan Pak Hendra.

***

Monday, April 30, 2007

Belajar menjadi penerbit

September 1994. Ketiga kalinya saya memasuki gerbang Kanisius. Kali pertama sekitar tiga tahun berselang, saat saya bersama rombongan seminaris mampir berkunjung. Kali kedua beberapa bulan sebelumnya, saat saya mengikuti ujian saringan. Kali ini saya datang sebagai karyawan. Saya membuka lembaran hidup yang benar-benar baru. Yogya adalah kota baru, ratusan kilometer jauhnya dari kota asal saya, Bandung. Tak ada sanak saudara di sini. Penerbitan pun sebuah dunia yang masih asing bagi saya. Saya kenal buku — dan buku-buku Kanisius termasuk teman yang paling dekat dalam perjalanan hidup saya — tapi membuat buku? Sama sekali asing. Banyak hal yang perlu saya pelajari. Dan benarlah, tak lama kemudian, jelaslah bagi saya bahwa di balik sebuah buku ada sebuah proses yang panjang, dengan keringat banyak orang, tak jarang disertai diskusi berlarut-larut, perdebatan, kadang kerja lembur sampai pagi. Kompleks. Untuk melahirkan sebuah buku yang bagus dan bermutu, ternyata diperlukan paduan sekian keterampilan dan seni bekerja.
Syukurlah, tugas pertama saya sebagai seorang trainee adalah belajar. Di bawah bimbingan para senior seperti Pak Puja, Mas Bowo, dan Mas Edhi, saya dituntun untuk membaca sejarah Kanisius, mengenali macam-macam format buku, membandingkan pemakaian jenis huruf, meneliti kesalahan cetak, mendaftar klasifikasi terbitan. Kemudian, saya mulai dilatih untuk menilai layak terbit tidaknya sebuah naskah, sebelum akhirnya diajari menyunting naskah, pekerjaan utama seorang editor. Pokok terpenting yang saya pelajari dari masa orientasi itu adalah bahwa sejak amat dini seorang editor harus punya perspektif menyeluruh tentang sebuah buku. Begitu naskah sampai di depan hidung saya, segeralah saya menyalakan proyektor imajiner: siapa yang nantinya akan membaca buku ini, apa saja yang mereka inginkan dari buku semacam ini, ada berapa banyak kira-kira pembacanya, bagaimana bentuk dan tampilannya agar buku ini dapat dicerna dan disukai pembacanya.
Terdengar sederhana? Nyatanya tidak, karena mengasah indera penciuman agar tajam dan melatih agar proyektor imajiner itu menampilkan gambaran serealistis mungkin ternyata bukan hal yang mudah dipelajari. Bahkan mereka yang sudah banyak makan asam garam di bidang penerbitan pun, taruhlah Pak Priyanahadi dan Pak Supriharsono, mengakuinya. Kadang buku yang diyakini pasti laku dan lalu diterbitkan dengan promosi gencar dalam kenyatannya jeblok di pasaran. Sebaliknya, buku yang diterbitkan tanpa antusiasme karena prospek pasarnya dinilai biasa-biasa saja malah laku keras sehingga harus dicetak berulang-ulang. Satu lagi yang saya pelajari: editor perlu berdamai dengan kenyataan bahwa tidak semua bisa diprediksikan, bahwa di bidang penerbitan pun ada misteri. Toh, itu mengasyikkan, menantang.
Dalam pekerjaan menyunting naskah, berjumpalah saya dengan banyak persoalan. Salah satu persoalan klasik adalah tentang tanda baca, ejaan, penomoran subbab, dan peristilahan baku. Ada orang-orang yang tidak habis pikir, untuk apa repot-repot mengurusi perkara remeh seperti titik, koma, tanda kutip. Terhadap ungkapan itu, para editor punya satu jawaban yang khas. Tanda baca adalah tanda untuk membaca, pedoman untuk menangkap gagasan dalam tulisan, maka bila pembaca tersesat karena membaca tanda baca yang keliru, berdosalah ia yang membuat kekeliruan itu. Sebaliknya, berbahagia dan berbanggalah ia yang berhasil membawa pembaca selamat sampai tujuan. Dengan keyakinan akan itu, saya membolak-balik buku referensi semacam Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan, Pedoman Umum Pembentukan Istilah, Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia, dan Kamus Besar Bahasa Indonesia. Ini semua sebetulnya bahan yang pernah diajarkan kepada saya bertahun-tahun sejak SMP hingga SMA bahkan sewaktu mahasiswa. Bedanya, dulu saya dan kawan-kawan sekelas mempelajarinya sebagai kewajiban yang membosankan, sekadar syarat naik kelas karena tidak boleh merah nilainya, kini saya membacanya dengan penuh gairah karena tujuan problem solving.
Saya cukup puas karena banyak perkara dapat diselesaikan setelah mendapat pencerahan dari buku-buku itu. Namun, tidak selamanya tersedia solusi yang pasti. Misalnya, mana yang betul: praktek atau praktik? Kamus resmi keluaran tahun 1983 mengatakan yang baku adalah praktik, kamus tahun 1988 praktek, dan edisi terbaru kembali lagi ke praktik. Rupanya, lain penyusun kamus, lain pula pandangannya, dan masing-masing dengan argumentasinya sendiri yang sama-sama masuk akal. Mau ikut yang mana? Kalaupun keduanya benar, tidak mungkinlah dalam sebuah buku kedua istilah itu muncul bersamaan tanpa menimbulkan kesan gegabah atau tidak serius di mata pembaca. Editor harus memilih. Maka, satu lagi yang saya pelajari: dalam pekerjaan menyunting, pentinglah menjaga konsistensi, bahkan “lebih baik salah tapi konsisten daripada benar tapi tidak konsisten”. Mungkin sepintas terdengar janggal dan tak bermoral, tapi itulah hukum emasnya para editor.
Salah satu hal yang menyenangkan bekerja di Kanisius adalah tersedianya perpustakaan yang cukup baik. Berbagai kamus dan ensiklopedi yang penting tersedia. Kalau saya membutuhkan sumber rujukan yang tidak ada di perpustakaan, saya bisa mengusulkan agar buku itu disediakan, dan — inilah yang menyenangkan — biasanya dikabulkan! Betapa gembira hati ini ketika buku yang amat saya nanti-nantikan datang ke meja saya, yaitu Chicago Manual of Style edisi ke-14 dan Indexing Books. Yang pertama adalah buku dengan tebal seribuan halaman, berisi pedoman tentang segala macam unsur dalam penyusunan buku. Semula buku itu dipakai oleh penerbit Chicago University Press untuk keperluan mereka sendiri, namun kini menjadi semacam kitab sucinya para penerbit sedunia. Yang kedua adalah pedoman yang cukup mendetail tentang seluk-beluk menyusun indeks buku. Letaknya yang di bagian belakang mengesankan indeks sebagai unsur tambahan yang tidak penting, tetapi sesungguhnya indeks yang disusun dengan baik merupakan alat bantu yang sangat berguna bagi pembaca. Saya ingin agar Kanisius juga memiliki pedoman penyuntingannya sendiri meski tidak harus selengkap Chicago Manual of Style. Saya juga ingin agar buku-buku Kanisius, terutama buku-buku ilmiahnya, dilengkapi dengan indeks yang baik. Bersama beberapa kawan saya mulai mengumpulkan materi yang diambil dari berbagai pedoman dan dari praktek kami sehari-hari. Hasilnya baru berupa pedoman singkat yang masih jauh dari apa yang kami inginkan. Lebih banyak perhatian tersita untuk menyelesaikan pekerjaan menyunting sehari-hari. Mudah-mudahan dalam waktu tidak lama lagi, pedoman itu bisa terwujud.
Hal baru yang membuat saya grogi adalah komputer. Pada waktu menyusun skripsi tahun 1993 saya memang sudah menggunakan komputer dengan aplikasi WordStar under DOS, tetapi sebatas sebagai pengganti mesin tik. Lebih dari itu saya tidak tahu apa-apa dan memang saya tidak peduli karena tujuan saya waktu itu adalah menyelesaikan skripsi. Di Kanisiuslah mata teknologi saya dicelikkan. Saya belajar bahwa komputer merupakan perangkat yang ampuh dalam proses penerbitan. Dengan aplikasi pengolah kata Microsoft Word, misalnya, pekerjaan mengetik dan menyunting menjadi sangat mudah. Saya tak perlu repot-repot mengetik ulang, menggunting, dan menempel teks naskah, sebagaimana dilakukan oleh para editor pada masa lampau. Tak perlu khawatir salah ketik karena sewaktu-waktu saya dapat memeriksanya kembali dari awal sambil memperbaiki semua kesalahan yang dibuat, tanpa memboroskan tinta, tipp-ex, dan kertas. Bukan hanya tugas pribadi dapat terselesaikan dengan lebih efisien, kerja sama dengan rekan-rekan di bagian lain pun amat dimudahkan. Agar hasil suntingan saya dapat dikerjakan layout-nya dan dicetak, saya cukup men-share salah satu folder di komputer saya, lalu memberitahukan kepada rekan di bagian Composing nama berkas yang saya share. Berikutnya, mereka dapat mengambil berkas itu tanpa beranjak sesenti pun dari tempat duduk. Itu berkat adanya jaringan lokal yang menghubungkan semua komputer di perusahaan ini.
Karena saya paling “bego” di antara rekan-rekan lain, saya memaksa diri untuk banyak bertanya pada mereka. Sumber rujukan yang sangat resourceful adalah Mbak Punki, cewek mantan editor yang paling jago komputer pada saat itu. Untung pulalah di Kanisius ada orang seperti Mas Totok Teknik, sang administrator komputer yang sangat luas pengetahuannya dan senang membantu. Tapi, tidak mungkin tiap saat bertanya, apalagi pada saat mereka juga harus menyelesaikan pekerjaan yang bertumpuk-tumpuk. Maka, saya luangkan waktu untuk belajar sendiri tentang komputer. Sementara teman-teman sekantor pulang ke rumah jam 14.30, saya kadang tetap tinggal di belakang meja komputer sampai sore atau malam, membolak-balik file Help dan Readme.txt. Saya belajar bahwa kedua jenis file tersebut adalah sumber pengetahuan yang sangat berharga untuk mempelajari seluk-beluk komputer. Ada kawan yang sudah enggan terlebih dulu karena harus berhadapan dengan teks bahasa Inggris karena harus membolak-balik kamus. Tetapi, memang pada zaman sekarang ini penguasaan bahasa Inggris, minimal pasif, adalah syarat mutlak untuk tidak ketinggalan zaman. Untuk dapat mengikuti perkembangan zaman, kiranya membolak-balik kamus adalah harga yang sangat murah.
Saya juga belajar dari kesalahan. Saya tidak pernah akan lupa pil pahit yang harus saya telan sewaktu menyunting naskah Iman Katolik. Berdasarkan petunjuk kamus, saya hendak mengganti semua kata “isteri” menjadi “istri”. Supaya cepat, saya gunakan fasilitas “Replace All” yang ada dalam aplikasi Microsoft Word. Satu kali klik, selesailah masalahnya. Selesai? Tidak. Justru bencana yang saya hadapi. Terpaksalah saya menelusuri teks dari awal karena ternyata semua kata “misteri” pun kepalang ikut berubah menjadi “mistri” dan semua “magisterium” menjadi “magistrium”. Alamak, yang sudah benar malah menjadi keliru. Di tangan orang bodoh atau ceroboh, komputer hanyalah rangkaian elektronik yang tak bermanfaat, bahkan bisa berbahaya. Namun, pengalaman melakukan kesalahan adalah juga motivator berdaya besar untuk belajar. Sekarang saya tahu persis apa yang harus saya lakukan.
Namun, sumber belajar yang paling penting adalah rekan-rekan sekerja, yakni kawan-kawan di Redaksi dan di bagian lain. Dan kesempatan paling bagus untuk belajar adalah ketika menemui masalah. Dari rekan-rekan di bagian Composing saya belajar bahwa kalau sudah sampai pada taraf page-proof atau pruf PM, menghilangkan dan menambah satu kata pun bisa mengobrak-abrik hasil pekerjaan tekun sekian hari. Maka, koreksi pruf harus dilakukan dengan cerdik. Dari mereka pulalah saya mengenal istilah-istilah seperti raster, setspiegel, montage, overbrink, kerning, drop cap, broken link, moire. Saya paling suka kalau bermasalah dengan Pak Subagio karena beliau ini orang yang wawasannya luas, tahu tentang seluk-beluk percetakan sampai ke tulang-tulangnya, dan teman diskusi yang menyenangkan. Akibatnya, setiap kali muncul masalah, ujung-ujungnya justru pengetahuan saya bertambah.
Pengalaman bekerja sama dengan rekan di bagian lain mendorong saya untuk mencoba belajar sendiri aplikasi PageMaker dan Photoshop. Dalam satu kesempatan saya minta diperbolehkan membuat sendiri setting satu buku yang saya sunting. Untunglah diizinkan karena di situlah saya semakin mengerti tentang apa yang dikerjakan dan permasalahan seperti apa yang dihadapi oleh rekan-rekan di bagian Composing. Semenjak saat itu, saya makin tahu apa yang harus saya lakukan agar kerja mereka dipermudah.
Sarana belajar saya bertambah ketika pada tahun 1996 saya diperkenalkan pada internet, jaringan yang menghubungkan sekian juta komputer di seantero dunia. Luar biasa. Dan memang luar biasalah efek yang dibawa oleh perkembangan teknologi informasi mutakhir ini. Komunikasi dipermudah, dan lalu segala macam informasi menjadi terjangkau oleh siapa pun. Saya mulai suka mengunjungi warnet. Kegemaran saya adalah browsing situs-situs penerbit dan komunitas perbukuan. Kadang-kadang beberapa informasi yang menurut saya penting saya simpan di disket yang selalu saya bawa ke mana-mana, lalu saya bagikan kepada rekan-rekan di kantor. Kanisius pun, meskipun terhitung lambat dibandingkan penerbit lainnya yang kecil sekalipun, kemudian mengadopsi teknologi itu, mulai dengan sistem dial-up hingga sekarang lewat wave-LAN. Sayang bahwa editor tidak diberikan akses selain lewat satu komputer di perpustakaan yang berarti tidak bisa rutin karena harus antri dengan sekian banyak karyawan lain.
Tidak selamanya belajar dianggap baik. Saya tidak pernah habis mengerti ketika ada orang berkata, “Wis to, editor tidak usah belajar macam-macam aplikasi. Cukup pelajari saja Microsoft Word. Jangan mau tahu segalanya.” Saya setuju spesialisasi, bahwa orang perlu terampil di satu bidang tertentu. Tetapi saya tidak setuju anjuran untuk tidak belajar. Satu lagi yang saya pelajari: justru ketidaktahuanlah yang seringkali menimbulkan salah pengertian dan inefisiensi. Justru semakin banyak yang saya ketahui, semakin luaslah sudut pandang saya dan semakin tahulah saya cara menyelesaikan pekerjaan dengan lebih baik dan lebih cepat. Pengetahuan itu berguna juga ketika saya menularkannya kepada rekan yang lain sehingga mereka bisa menyelesaikan pekerjaannya, dan dengan demikian mendukung tercapainya tujuan perusahaan.
Syukurlah pimpinan saya, Pak Priyanahadi dan Mas Marsana, adalah orang-orang yang sangat mendorong para editor untuk terus belajar. Mas Marsana merintis diselenggarakannya forum studi bersama hari Sabtu terakhir setiap bulan. Dalam forum itu para editor bertukar pikiran tentang berbagai hal sehubungan dengan pekerjaan sehari-hari, juga tentang hal-hal yang bukan pekerjaan kami tetapi berkaitan erat dengan penerbitan. Maka, kami pun belajar menggunakan aplikasi PageMaker dan Photoshop di bawah bimbingan Mas Jaya Supena, penata grafis Majalah Familia. Pernah juga kami mendalami persoalan kebahasaan dengan mengundang narasumber Pak Praptama, staf pengajar dari Universitas Sanata Dharma. Kami juga mengundang Mas Agus Haryanto dari bagian Keuangan untuk menggambarkan seluk-beluk perpajakan dalam bisnis penerbitan. Di samping upaya belajar secara pribadi, saya yakin, kesempatan belajar bersama seperti ini, bukan hanya di Redaksi tapi juga di bagian lain, sangatlah positif bagi perusahaan.
*
September 2002. Sudah tiga tahun ini semenjak akhir 1999 saya mengepalai Divisi Humaniora dengan tugas mengembangkan terbitan buku di bidang filsafat, kebudayaan, sosiologi, politik, juga buku-buku manajemen, pengembangan kepribadian, pembinaan keluarga, dan teknik sipil/arsitektur. (Ada yang bercanda, seharusnya namanya diubah menjadi Divisi Aneka Ria.) Salah satu tantangan yang pernah dan sampai sekarang masih kerap diajukan kepada saya adalah “Dapatkah Kanisius menjadi penerbit buku filsafat yang terpandang di Indonesia?”
Itu tantangan yang mudah-mudah sulit, sulit-sulit mudah untuk dijawab. Mudah, karena sampai batas tertentu tantangan itu sudah terjawab. Dulu, terutama ketika belum banyak penerbit yang menaruh minat pada filsafat, Kanisius boleh dikatakan menjadi acuan masyarakat dalam bidang filsafat. Kalau hendak belajar filsafat, baca buku Kanisius. Para penulis bidang filsafat menerbitkan bukunya di Kanisius. Sampai saat ini kiranya masih banyak orang menilai Kanisius sebagai penerbit buku-buku filsafat yang bermutu. Syukurlah bahwa banyak penulis filsafat adalah para imam Katolik sehingga memiliki sedikit banyak ikatan batin dengan Kanisius yang merupakan milik Gereja. Tokoh-tokoh seperti Franz Magnis-Suseno dan Kees Bertens pun, di samping ke Gramedia, menyerahkan sebagian naskah terbaik mereka kepada Kanisius.
Namun, tantangan itu juga sekaligus tidak mudah dijawab karena pada tahun-tahun belakangan ini banyak penerbit muncul di negeri kita. Banyak di antara mereka adalah sekumpulan anak muda yang mendirikan penerbitan karena dorongan idealisme. Hasilnya mencengangkan. Berturut-turut terbit terjemahan karya-karya penting para tokoh pemikir dunia, sebut saja Nietzsche, Foucault, Hegel, C.G. Jung, Freud, dan sebagainya. Yang mengejutkan, mereka tidak gentar pada jumlah halaman yang ratusan bahkan nyaris mencapai seribu halaman. Padahal, di forum-forum evaluasi naskah kita terbiasa sangsi bila melihat naskah tebal. Berapa lama waktu untuk menerjemahkannya? Seharga berapa buku itu nanti akan dijual tanpa risiko menumpuk di gudang karena tidak terbeli masyarakat? Para penerbit kecil itu toh berani dan menemukan caranya sendiri: cari nama besar, terjemahkan secara cepat, cetak dengan kualitas sedikit rendah, bungkus dengan sampul yang didesain artistik. Terbukti, buku mereka laku di pasaran. Mungkin nama besar, desain sampul, dan kebaruan tema merupakan faktor pendukung yang utama, karena sebetulnya cukup banyak di antaranya kualitas terjemahannya tidak baik. Bagaimanapun juga, rentetan terbitan itu cukup untuk menyadarkan saya bahwa tidak mudahlah sekarang untuk merebut perhatian khalayak.
Agaknya tantangan itu harus dijawab oleh semua orang Kanisius. Saya dan rekan-rekan di Divisi Humaniora perlu lebih selektif memilih naskah untuk diterbitkan dan menjaga kualitas terjemahan serta suntingan. Saya pernah meloloskan sebuah naskah yang dijamin oleh seseorang yang saya pandang berwibawa di bidangnya. Setelah terbit, barulah saya menyesal melihat betapa buruknya terjemahan buku itu. Saya juga perlu lebih aktif mencari pengarang yang baik atau buku asing yang baik untuk diterjemahkan. Untuk yang terakhir ini tantangannya agak berat karena saya harus pandai-pandai berhitung dengan jumlah naskah yang harus dikerjakan. Ini mengurangi mobilitas. Dan sangat disayangkan bahwa akses internet, yang sebetulnya sangat strategis untuk kepentingan ini, tidak tersedia secara leluasa bagi para editor.
Rekan-rekan di bagian Composing dan Desain pun ditantang untuk dapat membuat buku-buku Kanisius tampil lebih memikat. Belakangan ini mulai muncul desain sampul dan setting yang lebih memikat. Barangkali ide-ide segar dan berjiwa muda memang selayaknya diberi peluang lebih banyak. Tantangan bagi rekan-rekan di bagian Pemasaran juga tidak kecil. Dalam segala keterbatasan yang ada sekarang, dapatkah mereka menemukan cara-cara yang lebih efektif dalam memasarkan buku-buku yang telah dikerjakan dengan segala susah payah itu? Terakhir, pihak top management pun ditantang untuk memfasilitasi dan mensinergikan semua potensi yang ada di Kanisius: berani melakukan terobosan (misalnya meningkatkan honor terjemahan, agar keluar dari lingkaran setan terjemahan buruk karena honor rendah dan honor rendah karena terjemahan buruk), lebih sigap dalam menyediakan perangkat kerja (upgrade komputer secara berkala, memberikan akses internet kepada editor dan petugas promosi), dan lebih terbuka terhadap ide-ide baru.
Di usianya yang ke-80, saya dan kita semua yang ada di Penerbit-Percetakan Kanisius kiranya masih perlu terus belajar. Banyak.

--- 200, menjelang hari jadi Penerbit Kanisius ke-80

Monday, June 20, 2005

prima epistola

in principio erat verbum.
pada mulanya adalah kata.

About Me

seorang editor, seorang tukang